22 September
2016
Tulisan ini hanya tulisan deklarasi
kebodohan saya dan juga tulisan ini akan menonjolkan sikap ketidak pekaan saya terhadap
lingkungan masyarakat –mungkin, dan mengkritik beberapa golongan serta fenomena.
So ketika kalian membenci orang yang bodoh dan juga terlalu emosian atau tidak
peka terhadap masyarakat, silahkan tinggalkan tulisan ini saat ini juga.. haha
Karena tulisan ini hanya akan berisi
pandangan subjektif saya sebagai orang yang mengalami gejolak emosi selama ini.
Sebenarnya tulisan ini hanya bersifat untuk melepaskan kejengahan saya selama
ini, singkatnya mungkin.... ‘curhat’? haha
Tulisan ini tentu menjadi tulisan
yang bebas dikritik dan butuh diberikan kejelasan karena seperti yang dikatakan
di atas bahwa saya hanya orang bodoh yang tentu membutuhkan orang lain –siapapun
itu, untuk memberikan kejelasan atas kebodohan yang menyelimuti otak saya.
Mungkin membeberkan tentang pandangan kalian sendiri tentang hal yang akan saya
paparkan.
Berawal saat saya masih sekolah di
bangku menengah pertama, ketika pertama kali merasakan yang namanya unjuk rasa
peduli Rakyat Palestina, kala itu saya menjadi orang bodoh yang kesal sendiri di
tengah-tengah kerumunan orang yang berteriak di pertigaan pusat kota, matahari tepat
berada diatas kepala kami, suara-suara menggema yang –mungkin bagi banyak orang
sangat menggetarkan jiwa, namun bagi saya yang saat itu tengah kesal dengan
panasnya terik matahari serta banyaknya pertanyaan muncul di otak membuat semua
teriakan itu tak sedikitpun menggetarkan hati. Saya hanya diam menilik kiri dan
kanan saya, suasana jalan macet, polisi hanya diam menonton, saling berbisik
ketika kami tengah berteriak teriak.
Saya tidak tahu apakah hal itu atau
maksud saya tentang pemikiran saya selama ini mengharuskan saya menanyakan pada
diri saya sendiri tentang, dimana letak imanku? Atau dimana letak kepedulianku?
Aku hanya tidak bisa menerima semua yang mereka lakukan sampai saat ini atau
apa yang pernah aku lakukan dulu.
Aku hanya mempunyai pemikiran
sederhana dan juga selalu bodoh.
Setiap orang punya cara mereka
sendiri memproklamirkan kepedulian mereka, ada yang dengan unjuk rasa di
jalan atau ada yang dengan tulisan, atau
mungkin hanya kesal saja. Kalian bebas melakukan apapun. Aku tidak berhak
menyalahkan –dan mungkin tidak berhak menilai, hanya saja manusia adalah
manusia yang gemar menjudge. I think I am normal. Haha
Baru-baru ini, ah tidak tadi malam
sebenarnya saya mendapat broadcast di salah satu grup diskusi di medsos,
tentang unjuk rasa peduli Petani Majalengka. Saya bukan bermaksud menyalahkan
sikap kepedulian beberapa kelompok orang yang unjuk rasa tersebut hanya saja
jika harus menarik manfaat dari unjuk rasa tersebut, saya sedikitpun tak
mendapat manfaatnya, kecuali kepuasan hati bisa merealisir rasa peduli. Haha
(hey, ini pandangan saya. Silahkan tertawakan kebodohan saya jika memang ini
lucu!)
Menilik pada kasus ini tentang unjuk
rasa peduali Petani Majalengka yang dilakukan beberapa golongan organisasi mahasiswa
di 0 KM, Yogyakarta, saya tidak menyalahkan, hanya saja bagi saya kurang tepat
saja. Mengapa harus unjuk rasa ketika kepedulian kalian sebenarnya bisa
dilakukan langsung di garis terdepat bersama para petani? Hey, bagi saya itu
hanya menguras tenaga saja, orang-orang hanya melihat dan berlalu, atau
sebagian melihat dan menanggapi lalu lupa. Unjuk rasa di Jogja, sudah seperti
lalab penyempurna makanan khas orang-orang Indonesia. Polisi Jogja saja
tertawa-tawa melihatnya, beberapa bahkan menjadikannya lelucon dan bertanya
“Mba kapan (Nama instansi) demo lagi?”, hahaha
Begitupun ketika aku memutar
memoriku pada unjuk rasa yang dilakukan saat aku masih di sekolah menengah
pertama tentang peduli terhadap Rakyat Palestina, bukankah sebenarnya lebih
baik menggelontorkan uang untuk dikirimkan ke sana dari pada berpanas-panas ria
di bawah terik matahari, berteriak-teriak sedangkan para polisi hanya diam di
sisi, mencoba menertibkan pengunjuk rasa agar tidak mengganggu lalu lintas.
Aku secara pribadi mendukung unjuk
rasa atau demo yang kalian lakukan atas nama kepedulian atau untuk kebaikan
bersama. Hanya saja jika tempatnya salah –dalam perspektif saya, saya tidak
setuju.
Jika saya harus mengungkit demo pada
saat penurunan Soeharto atau unjuk rasa 4 November yang bagi saya dilakukan di
tempat yang benar saya setuju saja. Dan apa yang mereka lakukan di tanggapi
dengan benar dan cepat. Terlepas dari esensi kebenaran masalah sebenarnya, saya
tidak menekankan pada kebenarannya. Saya hanya menekankan pada cara mereka.
Demo Seoharto mendapatkan hasil yang bagus, demo 4 november pun juga mendapat
tanggapan yang cepat walaupun entah tanggapan itu hanya untuk menangkan
sebagian masyarakat saja atau bukan.
Saran saya sih jika akan melakukan
demo lebih baik langsung ke tempatnya saja, berbaris di garis pertama, bagi
saya sih itu lebih terhormat dan memuaskan. Dari pada melakukan unjuk rasa dan
demo di tempat yang berbeda dengan TKP dimana kejadian sebenarnya terjadi.
Menganggu ketertiban juga. hahaha
Satu contoh lagi demo yang tidak
membuahkan hasil, demo penurunan Jokowi beberapa bulan yang lalu, oh comeon!
Saya pikir akan dilakukan di satu tempat, tapi ternyata dilakukan di beberapa
tempat. Merusak beberapa sarana di beberapa tempat, membuat kemacetan di
beberapa tempat juga. Dan yang lebih penting sedikitpun tak membuahkan hasil.
-_-
Silahkan berdemo atau unjuk rasa
namun lebih baik langsung di tempatnya, membantu yang memang perlu dibantu.
Entah itu kasus kepedulian Palestina yang menurut saya lebih baik dibantu
secara materi dan tenaga dulunya, atau kasus Majalengka yang masih
panas-panasnya yang sebenarnya lebih membutuhkan barisan lebih kuat. Atau
tentang kasus yang sudah berlalu tentang penurunan Jokowi yang tak berhasil
karena tidak didemo seperti cara masa Soeharto.
Well ini hanya pandangan saya saja, tentunya sebagai orang bodoh seperti di judul postingan.
See ya di curhatan curhatan yang lainnya. Wkwk..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar